Baca judul di atas dengan nada Rocker Juga Manusia by Candil

Air itu kayak manusia! Yap!
Manusia dicaci maki? Pasti marah, sedih, galau, dongkol.
Manusia dipuji-puji? Pasti seneng, bangga, semangat, optimis.


Iyak. Itulah manusia. Eh, bukan. Itulah air.

Waktu itu, waktu aku masih kelas sembilan. Dimana anak rajin lainnya sibuk buka-tutup soal-soal TryOut...
Aku malah buka-buka buku motivator. Huekekekkekk..

Keinget banget tuh. Duduk nomer dua dari depan, bukannya dengerin guru jelasin soal Matematika. Eh, malah sibuk nangis, senyum sendiri. Behhhhh..[semoga guruku itu nggak nyasar kesini -_-]
Pas itu buku karya siapa ya. Oh, iya! Karya Oom Jamil Azzani. Orang ini kereeeeeen banget!
Dalam satu buku, beliau nyeritain perjalanan demi perjalan dia hingga bisa jadi orang keren gini. Clap, Oom! Clap!
Bukunya apa, aku lupa judulnya. Hehehh.

Yang jelas, ada satu bab dimana Oom Jamil bercerita bahwa beberapa tahun silam itu pernah ada penelitian ilmuwan-ilmuwan Jepang tentang air.
Ilmuwan-ilmuwan itu membuat sebuah perbandingan.
Disiapkanlah dua buah gelas yang terisi air bening.

Kemudian, sebelum eksperimen dilakukan...
Dengan sebuah alat yang menurut aku canggih, bettttt, canggih! Alatnya itu bisa menampakkan kristal-kristal yang terkandung dalam air yang tidak terjangkau oleh penglihatan mata biasa. Keren lah pokoknye!
Ya kan, Oom Jamil? Gitu kan, ya?? *wink *angkat2 alis

Kemudian gelas pertama:
Dipuji-puji, diberi do'a, pokoknya dikasih yang bagus-baguslah!

Gelas kedua:
Dihina-hina, direndahkan, dan gelas kedua ini nasibnya malang, bettttt malang! *sesenggukan

Selang beberapa menit kemudian....
Alat yang canggihnya minta ma'ap itu, eh, minta ampun itu..... mulai beraksi kembali.
Betapa kagetnya mereka kala melihat kristal-kristal air yang ada di tiap-tiap gelas BERUBAH!
APAAAAA?!! YAP! BE-RU-BAH! BERUBAH!

Bukan Batman maupun Superman ataupun Poniman. Tapi air itu bisa berubah! Tunggu. Nama terakhir itu nama tetangga saya.

Kristal air dalam gelas pertama  menyatu menjadi bentuk-bentuk indah, menyegarkan mata.
Sedang kristal air dalam gelas kedua terpencar! Bercerai nggak mau kawin lagi.

Ilmuwan yang habis memuji-muji gelas pertama, bahagia langit dan bumi. Mereka tertawa, menangis haru, loncat-loncat, nari tor-torpun tak lupa.
Sedang ilmuwan yang habis mencaci-maki gelas kedua, sedihnya bukan main! Mereka sesenggukan, mencari bahu untuk bahan sandaran, saling peluk, mereka meraung-raung meminta ma'ap. Tapi air di gelas kedua udah terlanjur ngambek, udah nggak mau lagi kenal sama ilmuwan-ilmuwan itu. Air itu bilang, "Aku menyesal telah mengenalmu! Huh!"

Skip.
Paragraf di atas hanya tindak kegilaan dari pemilik akun blog ini. Brrrrr..

Ceritapun selesai...
Aku kaget! Aku tercengang! Aku nggak habis pikir! Aku imut! Eh, bukan.
Aku nggak pernah nyangka kalau air itu sampe segitunya. Dia itu sensitif banget jadi air. Hih! << lah? Malah marah-marah.

Pantes aja, ya..... Pompa air di rumahku sering macet! Akhirnya apa? Akhirnya aku harus kelebekan cari tempat penjual air. Miris sekali para hadirin...*geleng-geleng sampe Maghrib

Nyadar sih, kalau itu semua salah aku. Airnya jadi ngambek, kan? Jadi nggak mau lagi lihat wajahku.
Ya....
Gimana nggak. Dua kenyataan pahit kalau aku udah masuk kamar mandi:
1. Mainan air shower minimal setengah jam
2. Nggak keluar kamar mandi kalo belum digedor
Ter-la-lu...

Soalnya air itu adem, bettttt, adem! Air itu bisa nyenengin hati kita yang lagi nggak seneng, bisa ngademin hati kita yang lagi nggak adem, bisa menenangkan pikiran kita yang lagi nggak tenang. << Memang, saya lemah dalam mengungkapkan kata antonim.

Tapi betapa malangnya air. Padahal dia udah baik sebaik gitu. Tapi apa?!!
Kita malah memandang air seharga Rp 2000 segerobak! 

Ini ngapa malah jualan???? Ngok!

Oke, ulang.

Tapi betapa malangnya air. Padahal dia udah baik sebaik gitu. Tapi apa?!!
Kita malah memandang air sebegitu rendahnya.
Dengan dalih, "Halahhhhh, gampang cari air!" kita berbuat semaunya.

Kalo buat siramin tanaman mending, berguna bet. Lhah ini? Buat berendem nggak jelas #SesiCurhat

Padahal, saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air lainnya masih banyak yang kekurangan air.
Sampe-sampe kalo mereka melihat air sebaskom ajah. Girangnya udah kayak yang nemu duit seratus ribu lima lembar! Rebutan.

Aku sih emang nggak bisa lakuin apa-apa setelah tahu saudara-saudara aku kondisinya begitu...
Aku bukan orang kaya yang bisa gotong bathtube yang berisi air penuh ke daerah mereka buat disumbangin. Tapi aku baru nyadar, sekalipun aku orang kaya aku juga nggak bakal bisa menggotong bathtube ke daerah yang jauh gela dari Surabaya ini. Karena yang bisa ngelakuin itu hanyalah Limbad. #apadah

Tapi setelah baca buku itu aku jadi paham. Kalo air sudah ngambek itu...

Sejujurnya dia bukan ngambek. Dia bukan marah. Tapi dia sedih. Dia kecewa dan dia udah nggak punya semangat lagi buat menyegarkan manusia-manusia yang sudah mengecewakannya, manusia-manusia yang menganggap dirinya berkuasa. Dia sedih, kecewa.

Kalo udah gitu? Lebih berkekuasaan mana?
Manusia? Atau air?


1 comments :

ya ya, kayak manusia ya. semoga banyak yang menjaga kelestarian sumber daya air. ditunggu kunjungan dan komentar baliknya di http://timurlombok.blogspot.com/2011/12/mengangkut-asa-ke-desa.html

Reply

Kind words come from kind heart