Readers, ini aku baruuuuu aja pulang sekolah. Baru aja. Belum cuci muka, belum cuci kaki, belum ngapa2in. Bukan bermaksud kemproh atau jorok atau gimana. Tapi aku baru aja ngalamin suatu tragedi atau apa itu namanya.

Ini pertamakalinya kami [aku dan adekku] pulang sekolah sambil sesenggukan diatas sepeda motor. Ini pertamakalinya nangih

Entry ini aku buat bukan untuk nyurahin amarah puasa2 gini. Bukan untuk ngajak nangis bareng, bukan...
Entry ini aku buat dari hati, biar sampai ke hati. Dari do'a, biar sampailah do'aku. Entry ini aku buat untuk bapak itu...


Saat aku lihat anak2 cowok nggak pada langsung pulang, mungkin udah siap2 Jum'atan, saat itu pula aku keluar gerbang. Aku celingak-celinguk, ternyata adekku udah nunggu aku.
Aku pikir dia udah lama banget disana, aku samperin, "Mil. Udah lama ta?"
Dan adekkupun noleh. Kaget banget aku pas muka adekku basah, dimulai dari matanya. Ya, adekku nangis.
Aku bingung...
Tak kira ada apa. Tak kira adekku kecopetan [aku phobia banget sama tragedi copet pas itu] tapi aku mikir lagi, sekalipun tas adekku gede segede tas adekku, apa yang mau dicopet coba'?
Yahhh kecuali copet itu kutubuku, boleh sihhh kalo dia mau ngambil buku fotokopian Jepang dari Shandy sensei.
hah
Nggak nggak nggak! Mana ada copet gitu.
Ambigukupun berkelana lagi, aku langsung ngelongok ke slebor depan sepeda motor yang dinaiki adekku.
Kecelakaan? << oh yeach.. buruk sekali ambiguku kali ini. Jelas2 seragam adekku masi rapi banget kayak seorang adek yang baru pulang sekolah dan mau jemput kakaknya *eh?

Akhirnya aku nyoba' untuk menepis dan menepis setiap kemungkinan buruk yang mulai bermunculan. Dengan pelan2 aku dengerin adekku cerita walo gak jelas2 banget.
Bla n bla n bla~
Sudah diceritain Milla. Ternyata ini soal seorang bapak yang sejak jam duabelas malem udah ada di Surabaya!!
Jadi selama ini dia darimana???
Pertanyaan bagus!
Dia baru dateng dari Jombang DENGAN SEPEDA ONTEL BUTUTNYA!!!
Ya Tuhaaaaan...Mataku udah mulai basah, tapi aku tetep ngluarin pringisan2. Secara, itu masi di depan sekolahku. Kan nggak lucu aku ikutan sesenggukan [?]

Singkat cerita, akhirnya aku nyuruh Milla lewat ke depan bapak melas itu yang mumpung belum jauh2 dari gedung sekolahku.

Aku nggaktau harus gimana? Awalnya aku nggak bisa netesin airmata walo udah ngeliat kondisi bapaknya yang duduk di pinggiran trotoar pas itu. Dengan raut tak bisa ditebak, dia clinguk sana clinguk sini.
Miris liatnya. Emang miris.

Wajah itu...
Mungkin memang bukan wajah tanpa dosa. Mata itu juga.
Tapi telapak kanannya...
Ah, nggak tau harus gimana aku ceritanya. Telapak kanannya penuh luka terus gemeteran, Tuhaaaan sedih
Sampe' sini dia belum nyadar dengan kedatangan kita. Akupun manggil dia, "Pak...Bapak..." bapak itupun noleh.
"Bapak sudah makan?" tanyaku. Aku bener2 pingin denger jawabannya, "Belum." dan akupun bisa beliin dia makanan.
Tapi, "Ndak apa mbak...saya mati juga ndak apa mbak...ndak apa..." terus dia langsung nelungkup muka'nya.

Ya Allahhhhhh!
Aku langsung nggak kuat. Aku langsung blank! Yang aku sadarin pipiku udah basah terus2an. Ternyata aku udah nggak bisa mbendung rasa malu krn nangis di pinggir jalan raya. Udah nggak bisa dan nggak peduli sama rasa itu.. Yang aku tau BAPAK DI DEPANKU INI BUTUH PERTOLONGAN....!

Ya Allah...
Aku nggak bisa jawab apa2.
"Lho pak..."
"Iya, mbak. Ndak papa saya mati. Ndak papa.. percuma saya hidup kalo begini," hening. Walau kendaraan nggak berenti2nya lewat di sebelah kami, tapi yang aku rasain cuma HENING.
"Saya ini dari Jombang, mbak... dari jam duabelas malam saya disin~" dia nelungkup wajahnya lagi. Kalo bapak itu nggak kuat ngelanjutin ceritanya, maka aku dan adekkulah orang yang nggak kuat liat dia nangis.
"Bapak di Jombang ada keluarga?" aku sesenggukan.
"Ada mbak, ada. Saya ada keluarga~" terus aku nggak kedengeran bapak itu bilang apa. Yang aku liat dia terpuruk banget.
"Sudah maem, pak?"
"Sudah kok mbak iya, sudah." aku nggak tau ini jawaban jujur dia apa jawaban biar kita adem aja. Aku nggaktau. Ngeliat telapak tangannya yang terus gemeteran, sama caranya ngomong...aku sangsi kalo bapak itu beneran udah makan.

Oh, ato mungkin bapak ini puasa? pikirku. Mungkin dia puasa, tapi nggakmau bilang.
"Bapak puasa?"
"Iya mbak, saya masih puasa kok. Saya masih." pelan2 badannya yang udah lemah banget itu berdiri nggapai sepedanya yang nggak jauh dari hadapan bapak itu.
Dia mulai berdiri, entah apa yang bapak itu pikirkan, yang aku tau dia mulai menjauh dari kita.
Mulai bilang, "Trimakasih ya, mbak...trimakasih..."

Aku udah nggak pikir panjang.
"Lho, Mil...cepet kasi'no uange! Cepet!"

Nyatanya aku memang bukan orang kaya. Walo aku nggak merasa miskin, Alhamdulillah... tapi aku merasa mampu bantu orang itu. Walo cuma uang limaribu kertas yang aku keluarin dari tas.
Nggak tau berapa uang yang juga dikeluarin Milla. Yang jelas, Milla langsung manggil2 bapak itu dan ngasi' uangnya.
Alhamdulillah, Allah... bapak itu mau nerima.

Lamat2 aku cuma bisa mandang punggung bapak itu makin menjauh, dan jauh.
Aku terus nangis, nggak ngerti mau ngapain. Aku bingung. Dia butuh pekerjaan, tapi aku nggak tau pekerjaan apa yang bisa aku kasi' ke bapak itu.

Yang aku tau, ya Allah... doa
Entry ini aku buat dari hatiku...
Untuk bapak itu... Untuk do'aku untuk bapak itu.
Ya Allah... jangan biarkan keadaan ini terlalu menekannya.
Aku tau, ya Allah. Mungkin lebih baik dia kembali padaMu, sebelum dia menjadi hambaMu yang buruk, aku tau.
Tapi ya Allah...
Sekarang ini hidupnya. Ini hidupnya dariMu. Apa tega Kau membuatnya terlalu lemah begitu?

Bapak itu...
Bukankah juga seorang hamba yang Kau ciptakan dengan tanganMu?
Yang Kau ciptakan dia di rahim seorang ibu?
Bukankah dia juga seorang hamba yang Kau hadirkan dari segumpal darah? Dia sama sepertiku, Tuhan...
Sama seperti hambaMu yang tidak perlu dikasiani sepertiku ini. Aku juga hambaMu, Tuhan...
Dan aku yakin dengan "Kun fayakun"Mu lah aku juga Kau ciptakan.
Tapi kenapa bapak itu terlalu membutuhkan begitu???
Kenapa saat aku melihat bapak itu, sudah tidak ada lagi kalimat, "Ada yang lebih membutuhkan." sudah tidak ada lagi!
Bapak itulah yang sangat membutuhkan...paling membutuhkan...dia butuh bantuan, Tuhan...tapi kami tak bisa membantunya kecuali hanya nominal yang kurang dari duapuluh ribu...
Hanya Kau yang bisa merangkulkan tanganMu untuk menghentikan tangisnya, Tuhan...HANYA KAU!

Bukan aku merasa begitu tak berguna. Tapi aku merasa apa lagi yang bisa aku gunakan untuk lebih membantu bapak itu?


Kamipun mulai melajukan sepeda motor. Dan aku masih bisa liat bapak itu pelan2 menghentikan langkahnya. Kembali duduk di trotoar lain.
Sambil tetap kuteruskan airmata yang entah kapan berhentinya...
Bapak itu kembali menelungkupkan wajahnya.
Dan miris! Yang bisa aku lihat hanya sekitar bibir yang menjerit dalam bisingnya jalan.

Aku makin menangis.

2 comments

ganti speechless,
sebtu kudu cerita yoh.. *jik ket nyadar blogmu iso dikomentari*

Reply

jek kaet nyadar awakmu ngomen nag blogku... ~~"

sebtu wes kliwat....

Reply

Kind words come from kind heart